Rabu, 29 Agustus 2012

Hambatan-hambatan dalam komunikasi




Berkomunikasi secara efektif adalah layaknya menegosiasikan jalannya hambatan. Ada hambatan dalam diri kita, yang disebut filter komunikasi, yang menyaring informasi pesan; filter itu membatasi pemahaman kita dan dengan demikian bagaimana kita berkomunikasi secara efektif. Ada hambatan-hambatan dalam lingkungan eksternal yang dapat menggagalkan komunikasi. Dan ada ketidaksesuaian antara diri kita dan komunikator lain yang dapat mengarah pada kesalahpahaman dan bahkan konflik.[1]

Di dalam komunikasi selalu ada hambatan yang dapat mengganggu kelancaran jalannya proses komunikasi. Sehingga jika tidak ditanggapi dan disikapi secara tepat akan membuat proses komunikasi yang terjadi menjadi sia-sia karena pesan tidak tersampaikan atau yang sering terjadi adalah terjadinya penyimpangan.

Hambatan-hambatan tersebut bisa datang dari berbagai pihak ; dari pihak konunikan, audiens, atau sasaran pada umumnya. Bahkan komponen saluran pun bisa menghambat kelancaran komunikasi.
Artinya, semua komponen komunikasi bisa berpeluang mempengaruhi keberhasilan instruksional, terutama apabila salah satu atau beberapa syarat yang seyogianya dipenuhi, tidak ada atau tidak lengkap.

Hal yang tidak bisa dianggap tidak penting ialah hambatan-hambatan yang terjadi pada pihak sasaran atau audiens karena pihak inilah yang menjadi tujuan akhir dari seluruh tindakan komunikasi. Bahkan menurut Cowley (1982), hambatan-hambatan pada pihak sasaran ini menduduki tingkat yang lebih besar kemungkinannya. Sambuatan dan persepsi sasaran terhadap pesan (informasi) yang disampaikan oleh komunikator bisa ditafsirkan salah karena hal ini banyak berkaitan dengan masalah kepribadian pihak sasaran itu sendiri, termasuk pengalaman dan kondisinya pada saat proses penerimaan pesan (informasi) berlangsung.


Berikut adalah uraian selengkapnya tentang faktor-faktor yang memengaruhi kegiatan sekaligus bisa memengaruhi capaian tujuan komunikasi, selanjutnya hambatan-hambatan pada saluran komunikasi, dan akhirnya hambatan yang mungkin terjadi pada pihak sasaran.[2]

1. Hambatan Pada sumber

Seorang komunikator adalah seorang pemimpin, manajer, dan organisator, setidaknya pemimpin dalam pengelolaan informasi yang sedang disampaikannya kepada orang lain. Tanpa dikelola dengan baik, sistematis, dan terencana, informasi yang dikemukakannya tidak bisa diterima dengan efektif oleh pihak sasaran.

2. Hambatan pada saluran

Hambatan pada saluran terjadi karena adanya ketidak beresan pada saluran komunikasi. Hal ini juga dikatakan sebagai hambatan media karena media berarti alat untuk menyampaikan pesan. Gangguan-gangguan seperti ini disebut noise. Kabel telepon terputus, suara radio tidak jelas, tulisan tak jelas, suara tidak jelas, gambar pada televisi tidak jelas, dan sejenisnya, itu semua menunjukkan ketidakberesan saluran komunikasi atau media tadi.

Hambatan-hambatan teknis seperti tersebut biasanya di luar kemapuan komunikator. Tugas komunikator atau dalam hal ini yang penting adalah persiapannya dalam menentukan atau memilih media yang digunakannya.

3. Hambatan pada komunikan/sasaran

Sasaran adalah manusia dengan segala keunikannya, baik, dilihat dari kacamata fisiologi maupun lebih-lebih lagi kacamata psikologi. Yang pertama banyak berkaitan dengan masalah-masalah fisik dengan segala jenis kebutuhan biologisnya seperti kondisi indra, lapar, kurang istirahat, dan haus. Sedangkan yang kedua banyak berhubungan dengan masalah kejiwaan seperti kemampuan dan kecerdasan, minat dan bakat, motivasi dan perhatian, sensasi dan persepsi, ingatan, retensi, dan lupa, kemampuan mentransfer dan berfikir kognitif.

4. Hambatan teknologis dan illiteracy

Yang dimaksud dengan hambatan teknologis adalah semua hambatan yang secara sistem terjadi akibat dari unsur human error akibat illiteracy ini sekarang banyak menimpa siapapun yang tidak siap dengan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi.

Hambatan yang paling dominan yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat kita akan penguasaan teknologi dan hasil-hasilnya adalah masalah kesenjangan digital. Saat ini banyak sekali orang yang mengetahui jenis dan ragam dari produk teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi, namun tidak banyak dari mereka yang bisa menggunakannya dengan baik dan benar.

Selain itu ada beberapa hambatan komunikasi yang sering dijumpai dalam proses berkomunikasi secara umum[3], yaitu :

1. Kecenderungan untuk meloncat ke kesimpulan : Terlalu cepat menyimpulkan suatu informasi yang belum diketahui kejelasannya.
2. Prasangka : Pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri
3. Tidak perhatian
4. Asumsi : Dugaan yang diterima sebagai dasar atau landasan berpikir karena dianggap benar;
5. Streotip : Konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat
6. Generalisasi : Perihal membuat suatu gagasan lebih sederhana daripada yang sebenarnya
7. Berfikir kita sudah tahu sebelum komunikator menyampaikan informasi
8. Kelemahan atau kekurangan yang menghalangi kita melihat atau mendengar pendapat orang lain
9. Keterampilan mendengarkan yang buruk
10. Mengabaikan informasi yang bertentangan dengan keyakinan kita.

Menurut Ron Ludlow & Fergus Panton, ada hambatan-hambatan yang menyebabkan komunikasi tidak efektif yaitu adalah :

1. Status effect

Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia.Misalnya karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh apapun perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasinya atau pendapatnya.

2. Semantic Problems

Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaanya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication). Misalnya kesalahan pengucapan bahasa dan salah penafsiran seperti contoh : pengucapan demonstrasi menjadi demokrasi, kedelai menjadi keledai dan lain-lain.

3. Perceptual distorsion

Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandangan yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu dengan yang lainnya.

4. Cultural Differences

Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku. Seperti contoh : kata “jangan” dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi orang suku jawa mengartikan kata tersebut suatu jenis makanan berupa sup.

5. Physical Distractions

Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya : suara riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.

6. Poor choice of communication channels

Yaitu gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya sambungan telephone yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul, gambar yang kabur pada pesawat televisi, huruf ketikan yang buram pada surat sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.

7. No Feed back

Hambatan tersebut adalah seorang sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia. Seperti contoh : Seorang manajer menerangkan suatu gagasan yang ditujukan kepada para karyawan, dalam penerapan gagasan tersebut para karyawan tidak memberikan tanggapan atau respon dengan kata lain tidak peduli dengan gagasan seorang manajer.

Gangguan atau hambatan itu secara umum dapat dikelompokkan menjadi hambatan internal dan hambatan eksternal , yaitu:

1. Hambatan internal :

Hambatan yang berasal dari dalam diri individu yang terkait kondisi fisik dan psikologis. Contohnya, jika seorang mengalami gangguan pendengaran maka ia akan mengalami hambatan komunikasi. Demikian pula seseorang yang sedang tertekan (depresi) tidak akan dapat melakukan komunikasi dengan baik.

2. Hambatan eksternal :

Hambatan yang berasal dari luar individu yang terkait dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya. Contohnya, suara gaduh dari lingkungan sekitar dapat menyebabkan komunikasi tidak berjalan lancar. Contoh lainnya, perbedaan latar belakang sosial budaya dapat menyebabkan salah pengertian.

Ada beberapa cara untuk mengatasi hambatan komunikasi, antara lain:

1. Gunakan umpan balik (feedback)

setiap orang yang berbicara memperhatikan umpan balik yang diberikan lawan bicaranya baik bahasa verbal maupun non verbal, kemudian memberikan penafsiran terhadap umpan balik itu secara benar.

2. Pahami perbedaan individu atau kompleksitas individu dengan baik.

Setiap individu merupakan pribadi yang khas yang berbeda baik dari latar belakang psikologis, sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan. Dengan memahami, seseorang dapat menggunakan taktik yang tepat dalam berkomunikasi.

3. Gunakan komunikasi langsung (face to face)

Komunikasi langsung dapat mengatasi hambatan komunikasi karena sifatnya lebih persuasif. Komunikator dapat memadukan bahasa verbal dan bahasa non verbal. Disamping kata-kata yang selektif dapat pula digunakan kontak mata, mimik wajah, bahasa tubuh lainnya dan juga meta-language (isyarat diluar bahasa) yang membuat komunikasi lebih berdaya guna.

4. Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah.

Kosakata yang digunakan hendaknya dapat dimengerti dan dipahami jangan menggunakan istilah-istilah yang sukar dimengerti pendengar. Gunakan pola kalimat sederhana (kanonik) karena kalimat yang mengandung banyak anak kalimat membuat pesan sulit dimengerti.

Bagaimanapun pasti terdapat cara untuk mengurangi atau mengatasi hambatan komunikasi, yaitu seperti menjauhi suara gaduh dan pusatkan perhatian kita hanya untuk orang lain untuk mengatasi hambatan-hambatan semacam itu. Atau kita dapat juga pindah ke tempat yang lebih tenang atau yang terhindar dari segala macam gangguan. Pusatkan perhatian kita dengan mendengarkan secara seksama dan menjelaskan secara mental poin-poin yang akan dikatakan.

Referensi

Cole, Kris. 2000. Komunikasi Sebening Kristal. Bandung. Mizan Media Utama
Yusuf, Pawit M. 2010. Komunikasi Instruksional. Jakarta. Bumi Aksara

Cole, Kris. 2000. Komunikasi Sebening Kristal. Bandung. Mizan Media Utama hal. 90
Yusuf, Pawit M. 2010. Komunikasi Instruksional. Jakarta. Bumi Aksara. Hal 194-211
Cole, Kris. 2000. Komunikasi Sebening Kristal. Bandung. Mizan Media Utama. Hal 92

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar