Minggu, 23 September 2012

Bagaimanakah seharusnya bertindak terhadap kencangnya arus JIL (Jaringan Islam Liberal)?


Seringkali kita mendengar dan melihat banyak orang menyurakan segala macam keburukan mengenai JIL, bahkan tidak jarang banyak aksi yang dilakukan terkait dengan penolakan JIL disana-sini. Namun pada hakikatnya, jika kita telusuri lebih dalam lagi mengenai segala tindakan yang telah dilakukan selama ini tidak jarang banyak yang berbading terbalik. Banyak orang menyuarakan dan melakukan segala macam aksi penolakan terhadap JIL, tetapi mereka justru buta  atau berhenti sampai disitu saja dan tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, yaitu belajar dan memahami lebih banyak lagi mengenai Islam itu sendiri, terutama dalam masalah fundamental (aqidah).

Keawjiban seorang muslim sebelum beramal adalah berilmu. Bahkan agar aqidahnya lurus dan terjaga kualitasnya, ia harus senantiasa memupuknya dengan ilmu. Bila ilmu yang memupuk keimanannya ini benar, maka ia akan tumbuh sebagai seorang muslim yang penuh dengan sifat-sifat terpuji. Sebaliknya bila ilmu yang memupuk aqidahnya ini adalah rusak dan bersifat racun, maka
ia akan menjadi muslim yang keimanannya ragu-ragu atau sesat. Mengingat tantangan mendasar yang dihadapi ummat Islam dewasa ini berupa tantangan pemikiran. Sebab persoalan yang timbul dalam bidang-bidang tersebut serta bidang-bidang terkait lainnya ternyata bersumber pada persoalan pemikiran.

Kemungkaran terbesar dalam pandangan Islam adalah kemungkaran dibidang aqidah Islamiyah atau kemungkaran yang mengubah dasar-dasar Islam. Kemungkran ini berawal dari
kerusakan ilmu-ilmu Islam. Kemungkran jenis ini jauh lebih dahsyat dari kemungkaran di bidang amal. Sebagai gambaran, dosa orang yang mengingkari kewajiban shalat lima waktu lebih besar dari pada orang yang meninggalkan shalat karena malas, tetapi masih meyakini kewajiban shalat.

Tiada cara mudah untuk kita menangani aliran Islam Liberal melainkan kita berusaha bersungguh-sungguh untuk menuntut ilmu-ilmu agama dari pada para tokoh yang ikhlas, jujur dan mendapat petunjuk Allah. Dengan ilmu-ilmu tersebut kita dapat membedakan antara yang hak dan batil, sekaligus menerangkan apa yang hak dan menjawab apa yang batil.

Pada waktu yang sama hendaklah kita berdoa kepada Allah SWT agar diberikan hidayah ke jalan yang benar dan pemeliharaan daripada jalan yang sesat. Ingatlah bahawa jalan menuju kebenaran hanya satu manakala jalan menuju kesesatan adalah banyak. Jalan kebenaran adalah apa yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah yang terpercaya berdasarkan pemahaman generasi awal umat (al-Salaf al-Salih) manakala jalan kesesatan adalah apa yang menyelisihinya.

Semoga apa yang telah dijelaskan diatas dapat membuka paradigma kita mengenai apa yang telah terjadi dan bagaimana solusi yang tepat untuk menghadapinya, khususnya mendorong kita kepada apa yang seharusnya dilakukan dalam menghadapi tantangan pemikiran di zaman ini, yaitu dalam menghadapi segala bentuk tindakan JIL.
Allahu Akbar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar