Minggu, 21 April 2013

Kunci Keberhasilan Dakwah dan Evaluasi Dakwah


Islam adalah agama dakwah. Yaitu agama yang menugaskan ummatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam kepada seluruh ummat manusia. Sebagai rahmat bagi seluruh alam, Islam dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia, bilamana ajaran Islam yang mnecangkup segenap aspek kehidupan itu dijadikan sebagai pedoman hidup dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Usaha untuk menyebarluaskan Islam, begitu pula untuk merealisir ajarannya di tengah-tengah kehidupan umat manusia adalah merupakan usaha dakwah yang dalam keadaan bagaimanapun dan dimanapun harus dilaksanakan oleh umat Islam.
Penyelenggaraan usaha dakwah Islam, terutama di masa depan akan semakin bertambah berat dan kompleks. Hal ini disebabkan karena masalah-masalah yang dihadapi oleh dakwah semakin berkembang dan kompleks pula. Oleh karena itu dakwah yang dilakukan haruslah memiliki kunci untuk keberhasilan dakwahnya dan evalusi untuk terus elastis terhadap setiap dakwah yang dilakukan sampai seterusnya.
           Berdakwah merupakan kewajiban setiap muslim. setiap orang yang telah mengikrarkan 2 kalimat syahadat memikul tugas untuk menyampaikan kebenaran yang telah diyakininya kepada orang lain. Karena hakekat dakwah adalah menunjukan jalan menuju kebenaran. Ibarat seorang musafir tentu ia membutuhkan petunjuk dalam perjalanannya agar sampai di tujuan tanpa tersesat. Maka para rasul pun di utus ke bumi untuk menunjukkan umatnya jalan menuju kebenaran. dan kewajiban ini terus menerus dibebankan kepada umatnya setelah wafatnya.
Dakwah bukanlah sebuah profesi yang hanya dilakukan sebagian orang saja sebagaimana dipahami banyak orang. Namun ia merupkan manifestasi keimanan setiap orang yang mengaku muslim. Memang untuk dapat menyampaikan dakwah kepada umat secara baik dan benar seseorang dituntut untuk memiliki kapasitas keilmuan yang memadai disamping faktor-faktor penunjang lainnya. Namun, seseorang tak perlu menjadi seorang kiai atau ulama terlebih dahulu untuk boleh berdakwah. Bahkan kewajiban menyampaikan itu tidak gugur hanya dikarenakan seseorang merasa belum memiliki ilmu yang cukup. Hal ini ditegaskan oleh sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : “ Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat “ (HR. Bukhari)

Kunci keberhasilan dakwah
Kunci keberhasilan juru dakwah sebenarnya terletak pada juru dakwah atau da’i sebagai subjek dakwah itu sendiri. Dalam hal ini Rasulullah mencontohkan keberhasilan dakwahnya dalam mengembangkan ajaran Islam yang sebenarnya menjadi teladan para da’i. Suatu keyakinan, sikap dan perilaku sehingga Rasulullah mendapatkan pertolongan Allah dalam mengemban fungsi kerisalahannya. Sikap-sikap yang perlu diteladani antara lain:
1.      Rasulullah percaya dengan yakin, bahwa agama yang disiarkan itu adalah agama yang haq dan dapat mengalahkan yang batil (QS. Al-Isra (17): 80)
2.      Rasulullah sangat yakin bahwa Allah akan menolong umatnya yang membela agama Allah (QS. Muhammad (47): 7)
3.      Rasulullah beserta para sahabat-sahabatnya benar-benar jihad dengan mengorbankan harta, tenaga, dan jiwa untuk kepentingan tersiarnya agama islam. (QS. Al-‘Ankabut (29): 69)
4.      Rasulullah berkemauan keras dalam memikirkan umat mmau beragama secara benar, walaupun ia tahu dengan orang-orang yang berpura-pura (QS. Al-Furqan (25): 30)
5.      Rasulullah sangat merasakan penderitaan umat yang tidak tahu kebenaran, keras maunya untuk kesejahteraan umat dan sangat kasih sayang (QS. At-Taubabh (9): 128)
6.      Rasulullah sangat mulia akhlaknya dan budi pekertinya (QS.Al-qalam (68): 4)
7.      Rasulullah tidak pernah patah hati, dan selalu memberi maaf kepada orang lain yang berbuat tidak senonoh (QS. Ali ‘Imran (3): 159)
8.      Rasulullah senantiasa berendah hati, tetap tenang, tabah, tidak getar menghadapi lawan (QS. Al-Anfal (8): 45)[1]

Adapun sikap para da’i haruslah ilmiah dan amaliyah dalam berbagai permasalahan. Ilmiah berarti harus berdasarkan ilmu al-quran dan sunnah (hadits) dengan pemahaman komprehensif dan sama sekali tidak berdasarkan hawa nafsu kemarahan atau kecintaan. Sedangkan amaliyah berarti sikap pengamalan ilmu Al-quran dan sunah dengan diikhlaskan semata-mata karena Allah bukan untuk kepentingan materi dan pribadi serta pelampiasan hawa nafsu.
Pada dasarnya seorang juru dakwah hendaklah memiliki kemampuan komprehensif di dalam masalah-masalah agama islam, kunci sukses seorang da’i terletak pada kesinambunan dan keikhlasan dalam menyampaikan ajaran-ajaran umat Islam.

Evaluasi Dakwah

Evaluasi dakwah adalah suatu proses pengumpulan data menganalisis informasi tentang efektifitas dan dampak dari suatu tahap atau keseluruhan program kegiatan dakwah yang mendorong para menejer atau pemimpin dakwah untuk mengamati perilaku anggotanya, lewat pengamatan lebih mendalam yang tidak dapat dihasilkan melalui saling pengertian diantara kedua belah pihak.
Selain penjelasan tentang pengertian evaluasi dakwah saya juga akan memaparkan prosedur evaluasi kegiatan dakwah, yaitu :
1. Menetapkan standar atau tolak ukur
Dengan alat pengukur itu barulah dapat dikatakan berhasil atau tidaknya tugas dakwah

2. Rencana evaluasi
Dalam melakukan evaluasi biasanya dikaitkan dengan model-model evaluasi yang akan digunakan, yaitu :
 Evaluasi Input
a) Peserta program, meliputi mad’u
b) Tim or staff, meliputi Da’I dan manajerial
c) Program, meliputi durasi
Terkait evaluasi input ada 4 kriteria :
1) Tujuan dakwah
2) Penilaian terhadap kebutuhan komunitas
3) Standar dari suatu praktek yang terbaik
4) Biaya untuk pelaksanaan program
 Evaluasi Proses
Evaluasi ini dilakukan untuk menilai bagaimana proses kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan, evaluasi ini memfokuskan pada aktifitas interaksi antara mad’u dengan da’i.
 Evaluasi Akhir
Evaluasi ini dilakukan untuk menilai seberapa jauh tujuan-tujuan yang sudah direncanakan telah tercapai.

3. Mengumpulkan data
Tahapan selanjutnya adalah mengumpulkan data, pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, angket, studi dokumentasi dan pengamatan.

4. Menganalisis data
Menganalisis data dapatc dilakukan melalui 2 pendekatan yaitu pendekatan kulitatif dan pendekatan kuantitatif.

5. Menyajikan hasil analisis
Setelah semua ini selesai barulah kita menyajikan hasil analisis, cara menyajikan analisis ada 2 melalui laporan, yaitu laporan secara lisan dan laporan secara tertulis.

Untuk mengetahui apakah dakwah itu berhasil atau tidak, gagal atau tidak, harus ada proses evaluasi yang cermat, teliti, dan objektif dengan menetapkan parameter-parameter keberhasilan atau ketidak berhasilan suatu aktifitas dakwah, dan dari hasil evaluasi secara objektif dapat dijadikan patokan untuk menyusun langkah-langkah strategi dakwah yang lebih efektif pada masa berikutnya, dan isyarat untuk mengadakan evaluasi terdapat dalam firman Allah SWT yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok “. (QS. Al – Hasyr 59 ; 18 )
Dari ayat tersebut dapat difahami bahwa perlu adanya suatu proses evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan, untuk merencanakan hidup yang lebih baik dimasa-masa yang akan dating, termasuk kegiatan dakwah yang telah dilakukan perlu di evaluasi.

Saran-saran untuk menyebarkan dakwah
            Hal-hal yang dapat membantu penyebaran dakwah dan menguatkan keinginan para pendakwah, yaitu :
a.       Mempergunakan seluruh media semaksimal mungkin untuk penyiaran. Para juru dakwah Islam harus mempergunakan seluruh kesempatan untuk berdakwah, dan dalam seluruh media penerangan, dengan mengunakan sistem, jalan dan cara modern. Sebagaimana firman Allah SWT:
!$tBur $uZù=yör& `ÏB @Aqߧ žwÎ) Èb$|¡Î=Î/ ¾ÏmÏBöqs% šúÎiüt7ãŠÏ9 öNçlm; ( ÇÍÈ  
Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (Q.S. Ibrahim; 4)

b.      Seharusnya didirikan pusat untuk dakwah Islamiyah, mengajar agama dan bahasa dengan jalan belajar, kuliah, seminar, penulisan, dan lain-lain.

c.       Perluasan dalam pengiriman misi ke seluruh penjuru dunia sesudah dipersiapkan dengan persiapan yang baik.

d.      Berusaha untuk penciptaan dana yang diperlukan para ahli untuk dakwah Islamiyah, alangkah baiknya di setiap negara Islam memiliki dana untuk pembiayaan dakwah, dan lebih baik lagi kalau tiap negara menambahkan anggarannya untuk usaha yang mulia ini.

e.       Suatu hal yang sangat membantu supaya manusia dapat menerima dakwah Islamiyah adalah mengamalkan ajaran agama serta dasar-dasarnya dalam segala segi kehidupan masyarakat Islam, karena pengamalan ajaran agama merupakan propaganda agama.
            Dimana sekarang dalam kekosongan jiwa, dan kegoncangan mental, sesudah timbulnya bermacam perang, pertentangan berdarah dan materi. Agamalah yang dapat menenangkan jiwa, meyakinkan hati, membentengi kesusahan, menghubungkan antara khalik dan makhluknya, keamanan dalam kedudukan, melayat, musibah, kekuatan dalam kelemahan.

Peningkatan Dan Penyempurnaan Penyelenggaraan Da'wah
            Pengendalian dan penilaian, ditujukan pada pelaksanaan tugas-tugas da'wah yang sedang dalam proses juga ditujukan pada suatu proses yang sudah selesai. Apabila pengendalian macam pertama dimaksudkan untuk pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan, maka pengendalian macam ke dua dimaksudkan sebagai peningkatan dan penyempurnaan terhadap proses da'wah untuk masa-masa mendatang.
             Peningkatan dan penyempurnaan terhadap proses da'wah dilakukan setelah diadakan penelitian dan penilaian terhadap jalannya proses da'wah secara menyeluruh setelah suatu proses usaha selesai. Melalui  penelitian dan penilaian itu dapatlah diketahui kelemahan-kelemahan yang ada, penyimpangan-penyimpangan yang telah terjadi dan yang lebih penting lagi adalah diketahui faktor-faktor yang menjadi sebabnya terjadinya kelemahan dan penyimpangan tersebut.
Dengan data yang diperoleh, pimpinan dakwah dapat mengadakan penyempurnaan. Sehingga untuk proses dakwah pada tahapan berikutnya, tidak akan terulang lagi timbulnya kelemahan dan penyimpangan sebagaimana telah dialami oleh proses dakwah sebelumnya. Dengan begitu, maka proses dakwah semakin lama semakin meningkat maju sempurna.
            Atas dasar inilah maka penilaian itu harus ditujukan pada fungsi-fungsi manajemen  lainnya. Ia harus menjawab mengapa rencana yang telah ditetapkan tidak dapat dilaksanakan; mengapa organisasi yang telah disusun tidak dapat menjamin  tercapai tujuan; mengapa para pelaksana tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik dan sebagainya.
Dari jawaban-jawaban pertanyaan yang diajukan itu, dapatlah dilakukan perbaikan-perbaikan, perubahan-perubahan ke arah penyempurnaan dalam arti menyeluruh.
Suatu hal yang sangat ideal  adalah bilamana dalam setiap perencanaan untuk setiap tahapan atau jangka waktu tertentu terlihat adanya peningkatan dan penyempurnaan, melebihi waktu-waktu yang sudah.

Daftar Pustaka
Amin, Samsul Munir , Drs, MA. 2009. Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah
Syihata, Abdullah, Dr. 1986. Dakwah Islamiyah. Jakarta: Dep. Agama
Shaleh, Abdul Rosyad, Drs. 1977. Manajemen Dakwah Islam. Jakarta: Bulan Bitang





[1]  Ahmad W. Pratiknya (Editor), Islam dan Dakwah Pergumulan Antara Nilai dan Realitas, yogyakarta: Majlis Tabligh PP Muhammadiyah, 1988, hlm. 161.

8 komentar: