Rabu, 31 Juli 2013

Apa yang bisa dilakukan? "Indonesia"


Pada era globalisasi saat ini media mampu meneguhkan konektivitas sosial dan budaya dengan perkembangan teknologi terkini dan pengembangan konten secara efektif. Peran diatas menjadi optimal jika memperhatikan teori bahwa globalisasi dari analisis budaya telah menjungkirbalikkan konsep budaya sebelumnya yang disebut fixed locality. Konsep di mana budaya selalu diidentikkan dengan kekhususan dan lokasi geografisnya yang selalu terikat pada komunitasnya. Kemudian globalisasi membawa budaya jauh dari tempatnya dan kemudian membuatnya menjadi sesuatu yang mobile. Dan semuanya ini merupakan pengaruh dari symbolic power yang bersumber pada kekuatan informasi dan komunikasi. Tak jarang di era globalisasi saat ini sebagian besar negara di luar sana berlomba-lomba untuk go internasional dengan media melalui budayanya bahkan dengan budaya lain yang ditiru. Seperti halnya kita mengenal Matrial art dari china, Anime dari Jepang, Bollywood dari India, musik pop boy band dan girl band dari Korea, Telenovela dari Brazil, serta hollywood dari Amerika. Semua itu dapat kita tonton dan nikmati dengan mudah saat ini, bahkan sudah banyak masyarakat di Indonesia yang menirunya. Sebenarnya kita mampu untuk melakukannya, hanya saja kita belum yakin dengan potensi yang dimiliki dan kurangnya dukungan dari segala elemen. Cara terbaik sesungguhnya adalah dengan memaksimalkan potensi yang ada dengan sedikit modifikasi kemodernan dan bahasa asing sebaik mungkin, kontennya pun harus sesuai dengan nilai-nilai budaya kita dan tidak melenceng ke arah yang negatif.

Jika kita melihat fenomena negara-negara diatas yang mampu sukses untuk Go Internasional dengan caranya, mengapa Indonesia belum mampu melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan? Apakah kita harus meniru Boy band dan Girl Band? Atau kita meniru Kungfu China? Atau juga kita meniru Bollywood India? Jawabannya tentu tidak. Kita harus mempunyai karakter berbeda dari yang sudah ada supaya dapat terus eksis dan dapat bertahan, yaitu dengan mengkolaborasikan kebudayaan Indonesia dengan modernisasi yang dapat diterima seluruh masyarakat dunia. Sebagaimana dalam sebuah kutiapan “Jika produk Anda ingin laku di pasaran, buatlah produk yang berbeda.” Berapa banyak turis asing yang datang ke Indonesia ketika mereka melihat budaya dan kesenian kita secara langsung, mereka memujinya dengan sangat antusias. Bahkan berapa banyak dari mereka membawa kebudayaan Indonesia dan mengembangkannya di negara mereka. Namun apa yang terjadi dengan masyarakat kita sendiri, itulah masalahnya. Kita harus yakin bahwa segala apa yang ada di Indonesia bisa dimanfaatkan sebagai modal kita untuk Go Internasional.

Indonesia sejatinya mempunyai potensi besar untuk Go Internasional dalam bidang media penyiaran. Diatara potensi-potensi tersebut adalah
kebudayaan daerah (sunda, jawa, minang), kesenian (silat, tarian, musik), pariwisata, kuliner, kerajinan tangan, perikanan, perkebunan, peternakan, dan pengobatan herbal. Bahkan beberapa produk lokal sudah banyak yang memiliki brand internasional. Indonesia juga menonjol dalam bidang motivasi dan karakater, seperti MTGW (Mario Teguh Golden ways) yang sudah memiliki fans terbanyak nomor dua di dunia, ESQ Way 165 (Emosional Spiritual Quotient) yang sudah melakukan training di Asia, Australia, Eropa, dan Amerika dan Harmoni Training. Selain itu Indonesia juag memiliki potensi dalam bidang keislaman, yakni dengan adanya lembaga-lembaga Islam yang besar dan sudah diakui di luar negeri, seperti Pesantren (Gontor, Tebu Ireng), Universitas (UIN, UII) dan para ulama - cedikiawan muslim yang kompeten dan sudah pernah berdakwah ke luar negeri (KH. Arifin Ilham, Ust. Yusuf Mansur, KH. Abdullah Gymnastiar, Ust. Sholeh Mahmud, Ust. Otsman Omar Shihab, Adian Husaini, Hamid Fahmi Zarkasyi, dan Adnin Armas) dan terakhir adalah Ekonomi Syariah (DSN, DPS, Bank Muamalat, Mandiri Syariah) beserta tokoh-tokohnya (Syafii Antonio, Didin Hafifudin). Tidak perlu melawan budaya lain dengan meniru dan menggunakan budaya lainnya, seperti yang dilakukan oleh beberapa negara. Dengan memaksimalkan semua potensi yang disebutkan diatas semaksimal mungkin, Indonesia sesungguhnya dapat berbicara banyak dalam dunia penyiaran internasional di era globalisasi saat ini.
Sejauh ini Indonesia sudah cukup banyak berbicara di kancah internasional, sebut saja Film Ayat-Ayat Cinta yang sempat melejit di Asia Tenggara dan Australia,  Ketika Cinta Bertasbih, Rumah Dara, Merantau, The Raid Redemption, Laskar Pelangi. Kemudian musisi Agnes Monica dan Band Noah yang baru lahir ini juga sudah Go Internasional. Khusus film The Raid, penayangan perdana di hollywood mendapat sambutan luar biasa dari insan perfilman, bahkan tidak hanya di Amerika. Film tersebut mendapat apresiasi tinggi di Kanada dan Australia yang juga menjadi negara tempat penayangan perdana secara serempak dan selalu disesaki penonton. Sebelum beredar di bioskop, ‘The Raid’ yang diproduksi tahun 2011 telah mendulang beragam penghargaan bergengsi di kancah perfilman internasional, seperti Cadillacs People’s Choice Award di Toronto international film festival 2011 dan the Best Film sekaligus Audience Award di Jameson Dublin International Film Festival 2012. ‘The Raid’ juga ikut serta dalam festival film Sundance 2012, dan menjadi salah satu karya yang paling disukai panitia Sundance.

Film Indonesia lainnya yang mendapat banyak penghargaan internasional yakni Laskar Pelangi. Film yang diadopsi dari novel laris karya Andrea Hirata dengan judul yang sama juga menjadi salah satu film yang diputar pada festival film international fukuoka 2009 di Jepang. film yang disutradarai Riri Riza itu juga diputar di barcelona asian film festival 2009 di Spanyol, Singapore international film festival 2009, 11th Udine Far East Film Festival di Italia, dan Los Angeles Asia Pacific Film Festival 2009 di Amerika Serikat. Bahkan studio film di negara seperti, Namibia, Spanyol, Italia, Hongkong, Singapura, Jerman, Amerika, Australia, dan Portugal beramai-ramai menayangkan film tentang mimpi 10 anak di desa terpencil dalam mengenyam pendidikan tersebut. Setelah rilis pada tahun 2008 , ‘Laskar Pelangi’ meraih penghargaan the Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di International Festival of Film for Children dan Young Adults di Hamedan, Iran. Menjadi nominasi film terbaik di Berlin International Film Festival 2009, serta editor terbaik asian film 2009 di Hongkong.

Di dunia musik ada beberapa nama yang sudah Go Internasional, yaitu Agnes Monica, dimulai dari kesusksesan menjuarai Asian Song Festival 2008 di Seoul. Kemudian terpilih sebagai salah satu host Red Carpet American Awards. Dan pada tahu 2012 ia merilis album internasionalnya. Ia berduet dengan penyayi rapper Amerika, Timbaland. Musisi selanjutnya adalah Anggun C Sasmi yang sudah memiliki empat album internasional dan pernah menduduki top 5 UK Chart Inggris pada album pertamanya. Kemudian ada Sandhy Sandoro, ia kerap menyanyikan lagu-lagu bergenre jazz dan pernah berhasil memenangkan kompetisi festival penyayi muda internasional New Wave di Latvia pada tahun 2009 dan pernah menyanyi satu panggung dengan Toni Braxton dan Gloria estefan di Paladium Theater Hollywood, Los Angeles, Amerika Serikat.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mensosialisasikan semua potensi yang kita miliki kepada seluruh masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat mengetahui semua potensi yang dimiliki. Langkah kedua adalah mengajak masyarakat untuk mencintai dan mengembangkan semua potensi yang ada. Ketika kedua langkah diatas telah dilaksanakan dengan baik dan memiliki dampak positif, barulah kita beranjak ke langkah ketiga yaitu dengan mengajak masyarakat untuk turut mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat dunia bahwa Indonesia memiliki potensi besar yang baik. Semua ini membutuhkan perjuangan besar, kesungguhan, dan harus dilakukan bersama serta saling mendukung, demi mewujudkan semua cita-cita dan harapan Indonesia untuk Go Internasional dalam bidang penyiaran di segala bidang. Dan yang terakhir adalah kesabaran dalam menjalankannya. Semoga kedepannya Indonesia dapat sukses di dunia penyiaran internasional dan menjadi daya tarik bagi seluruh masyarakat dunia. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar